Seorang kawan bertutur tentang tiga kelahiran. Satu, kelahiran fisik. Tidak ada yang baru disini. A physical birth. Setiap manusia mengalami, merayakannya setiap tahun. Ucapan semarak di facebook, di BB, di twitter mungkin menjadikan hari ini sedikit berbeda. Setidaknya teman-temanmu mengingat keberadaanmu. Kadang menjadi saat yang tepat untuk melakukan refleksi, perenungan, namun lebih sering hanya berlalu begitu saja.
Dua, kelahiran psikologis. A psychological birth. Satu hal yang sudah lama saya tahu, namun mungkin baru saya mengerti. Sudut pandang yang berbeda. Katanya, hampir semua mengalami. Usia balita adalah saat pertama kelahiran ini. Anak saya, berusia 3 tahun Januari nanti, adalah contoh yang tepat. Semua mainan di rumah adalah miliknya. TV di rumah adalah miliknya. Anda hanya bisa nonton Playhouse Disney, selama Kayla belum tidur. Kursi sofa di ruang TV adalah miliknya. Tamu yang datang tidak boleh duduk di kursinya. Bahkan, “ayah itu ayah Kayla aja, bukan ayah Raisa, bunda itu bunda Kayla aja, bukan bunda Raisa!”. Raisa, kakaknya, kadang merengut, tidak terima, sulit untuk mengerti ‘kelahiran psikologis’ adiknya.
Hal yang menarik, ego dan keakuan tidak akan berhenti tumbuh. Semakin dewasa, ‘aku’ makin meraja. Ini mobilku. Ini rumahku. Ini istriku. Ini anak-anakku. Ini pekerjaanku. Ini jabatanku. Ini tulisanku (termasuk tulisan ini). Lihatlah diriku. Lihatlah aku. Lihat saja facebook, ruang dan waktu penuh sesak oleh berbagai status update, seolah penting mengabarkan kepada dunia, bahwa aku ada. “Gak narcist, gak eksis” kata bahasa gaulnya. The cult of me, kata bos saya.
Tarikan duniawi akan makin memperbesar ruang ‘aku’. Mengapa tertarik? Tak terhindarkan. Karena manusia memiliki dua unsur: dunia dan langit. Tarikan akan makin besar, makin cepat, makin lebih cepat lagi. Progressive materialization. Inilah saat kejatuhan Adam ke bumi. Adam turun dari langit jatuh ke bumi, bukan karena tarikan Hawa. Hawa tidak menarik bagi Adam, karena Hawa adalah pelengkapnya, bukan hal yang baru. Hal yang menarik adalah pohon. Ya, sebuah pohon. Kata sufi, pohon adalah lambang ‘dunia’. Tarikan dunia menyesatkanmu. “Rivalry (of piling up the good things of this world) diverts you”
Tiga, kelahiran spiritual. A spiritual birth. Mungkin inilah saat kita mulai gelisah. Saat unsur dunia mulai letih, saat unsur langit mulai lirih memanggil. Saat diri mulai mencari sesuatu yang hilang. Saat diri mulai rindu akan sesuatu yang dulu pernah ada. Ingin mengetahui ‘who we are’, ‘what we are doing here’, ‘why we’re here’, ‘where we come from’ and ‘where we go’. Inilah saat jarak ruang (spatial distance) dan jarak waktu (time distance) tidak lagi penting. Inilah saat jarak kesadaran menjadi lebih utama, a consciousness distance.
Selama ini, kehadiran-Nya mungkin tertutup oleh berbagai tabir. Hijab. Kelahiran spiritual adalah saat menyingkap tabir yang selama ini menutupi kehadiran-Nya. Saat tidak ada lagi jarak antara mahluk dan Sang Pencipta. Saat Tuhan hadir langsung di hadapan kita. Saat Ia mengingatkan: Iyya kana’ budu, wa iyya kanastaiin. Hanya kepada-Mu, kami menyembah, dan hanya kepada-Mu, kami mohon pertolongan.
Maka Dzikrullah. Maka mari mengingat Allah. Karena kita pernah disana. Cause you’ve been there. I’ve been there. We’ve been there.
Selamat tahun baru 2011.