Email menanggapi keluhan seorang sahabat tentang macet Jakarta:
“Saya sepakat, macet tidak bisa dijadikan tanda2 kebaikan. Itu tanda kemandegan bahkan kemunduran. Tanda bahwa kita lupa untuk menanam, tapi kita bergegas ingin cepat2 meraih manisnya buah. Kita tidak pernah berinvestasi, tapi kita ingin menikmati konsumsi tinggi.
Macet jadinya.
Kita semua tahu solusinya, bangun MRT, bangun tube, bangun monorail. Tapi ini jangka panjang. Lama. Dan, pastinya, tidak akan mengurangi macet saat ini. Kita serahkan pada ahlinya saja. Sambil terus bersuara: Implementasi, Implementasi dan Implementasi !
Tapi utk masalah mendesak, saya mengajak teman2 untuk berbuat yang kecil dan sederhana dulu. Jangan gunakan mobil pribadi, gunakan transportasi publik. Kereta dan Bis. Ini lebih baik. Daripada kita menambah sesak Jakarta, mari kita menyumbang ruang gerak Ibukota.
Dan, jika boleh mengimbau, jangan pernah melanggar aturan lalu lintas. Kehadiran kita di jalan, jangan sampai merugikan orang lain. Hanya karena tergesa, kita mengorbankan hak orang lain. Saya jadi teringat kata-kata Cak Nur: “Jangan berpikir Tuhan tidak marah ketika kita langgar aturan lalu lintas”. Dan percayalah, barang siapa memudahkan jalan bagi orang lain, jalan-jalan semesta akan terbuka untuknya.
Selamat berpuasa (terutama di jalan).”